Matahari semakin tenggelam dikala sore,namun tak terlihat indah apabila tidak hati ini merasakan pula naungan keindahan yang dilihat mata, Manusia berpikir demi dirinya dan demi usahanya,bergulat mencapai kemenangan, Hingga yang lain terkapar tak dihiraukan, Mati lenyap di tiup angin waktu yang telah tiada,sewaktu-waktu kembali namun tak akan terjadi, Hilang ingatan jika kita tertidur, Begitu pula manusia yang hidup tanpa aturan, Seakan dewa Titan telah merasuki mereka dari neraka sana, Tak perantara bagi manusia untuk bergerak, Namun digerakan oleh Allah dan tergantung maunya, Berkedip mata ini, Bernafas tubuh ini, Seiring roda kehidupan berjalan tanpa batas yang ditentukan, Manusia tidak sadar apabila hal yang indah terletak pada diri yang penuh kasih tanpa ada keputusan untuk mencampuri urusan orang lain, Sejalan demi sejalan tanpa batas terbenak pikiran maju namun terlindas pula,membuat semakin mundur dan mundur, Aku melihat yang mana cucu Adam mati kelaparan, Yang mana Cucu Hawa telah berlumur dosa, Seakan angin meniup daun yang kuning yang telah berpisah dari pohon di musim gugur, Seakan telah terlupakan bagai musim yang berganti-ganti, Canda tawa hanya sebatas gurauan dan makian, Tak akan pernah putus bagai urat nadi yang telah hidup dari jasadnya,Hingga pada akhirnya kehancuran yang tak ternilai dosanya,Tak berbanding, Telah terjadi, Air bertetes telah mengering, Terdiam bagai batu, Cucu Adam menunggu dan berpijak di tanah ini, Tiada perubahan yang berarti.
Kerinduan yang telah di hapus karena lindasan yang keras, Hancur...,Dan telah mengering,Seiring padi yang semakin merunduk, Berharap akan harapan baru demi kebahagiaan mereka,Cucu mereka, Anak mereka, Kebahagiaan yang ingin dicapai dengan mengumbar sejuta kasih, melempar semua kaca-kaca pahit tak bermanis, Dan demi harapan tak akan ada harapan untuk mundur, Telah terlukis....namun tersayat,dan Rusak........
Rusak dan menunggu subur kembali....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar